Hadits Adzan dan Iqomah Bagi Bayi Yang Baru Lahir (Hadits Lemah)

MediaMuslim.Info – Pada kesempatan kali ini, kita akan mencoba meluruskan pemahaman mengenai sebuah hadits yang amalannya sangat populer dikalangan masyarakat kita. Berikut arti dari Hadits Adzan  di telinga kanan si bayi dan iqomah di telinga kirinya maka anak itu kelak tidak akan diganggu jin: “Barang siapa dianugrahi anak kemudian ia adzan  di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya maka anak itu kelak tidak akan diganggu jin”

Hadits ini maudhu.
Ibnu Sunni meriwayatkan dalam kitab Amalul Yaumi wal-lailati halaman 200, dan juga Ibnu Asakir II/182, dengan sanad dari Ibu Ya`la bin Ala ar-Razi, dari Marwan bin salim, dari talhah bin Ubaidillah al-Uqali, dari Husain bin Ali.

Sanad Tersebut Maudhu` sebab Yahya bin Ala dan Marwan bin Salim deikenal sebagai pemalsu Hadits. Disamping itu, dalam periwayatan hadits diatas ada semacam unsur meremehkan atau mengagampangkan masalah. Hal itu diutarakan oleh al-Haitsami dalam kitab Majma az Zawa`id IV/59, Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan dalam sanadnya terdapat Marwan bin Sulaiman al-Ghifari, yang oleh muhadditsin riwayatnya ditinggalkan atau tidak diterima.

Almanawi pensyarah kitab al-jami`ush shaghir berkata: Hadits ini dalam sanadnya terdapat Yahya bin Ali alBajali ar-Razi. Adz Dzahabi dalam kitab adh Dhuafa` wal-Matrukin berkata: “Ia pendusta dan pemalsu ” Itulah yang dinyatakan oleh Imam Ahmad.

Menurut Muhammad Nashiruddin Al-Albani, kepalsuan diatas tidak banyak diketahui ulama. Buktinya banyak ulama kondang yang mengutarakan hadits diatas tanpa menyebutkan kemaudhu`an da kedha`fannya. Hal ini terutama dilakukan oleh ulama penulis atau pembuat kitab kitab wirid atau kitab kitan fadha`il. Misalnya, Imam Nawawi mengungkapkan hadits tersebut dengan perawi Ibnu Sunni. Namun tanpa memberi isyarat atau komentar kedha`ifan dan kemaudhu`an nya.

Begitu pula dengan pensyaratan yakni Ibnu Ala. Ia pun tidak menyinggung tentang sanadnya sama sekali. Setelah itu datanglah ulama generasi berikutnya yakni Ibnu Taimiyah yang dapat dilihat dalam kitab al-Kalimuth Thayyib yang diikuti oleh muridnya Ibnu Qayyim yang diutarakan dalam kitab al Wabilush Shayyib. Namun keduanya menyinggung seraya berkata bahwa dalam sanadnya terdapat kedha`ifan.

Setelah keduanya, datanglah generasi ulama berikutnya atau bahkan semasa dengan keduanya, tetapi tidak menginggung atau bahkan diam seribu basa dalam mengontari sanad hadits tersebut.

Pada prinsipnya, sekalipun keduanya (Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim) telah terbebas dari aib mendiamkan hadits atau riwayat dha`if, namun tetap tidak bebas dari pengungkapan kedha`ifan suatu hadits. Maksudnya, apabila mengetahui kedha`ifan hadits tadi mengapa mereka masih mengutarakannya? Itu berarti hanya merupakan pernyataan kedha`ifan hadits tersebut dan bukannya menunjukan kemaudhu`an nya. Apabila tidak demikian maka sudah sepantasnya kedua imam yang agung itu tidak mengutarakan hadits tersebut diatas. Inilah yang pasti akan di pahami oleh orang orang yang meneliti dan mau menelaah kitab atau karya tulis kedua imam tadi.

Yang membuat Muhammad Nasiruddin Al-Albani khawatir ialah para ulama generasi sesudah beliau menjadi terkecoh hingga dengan lantang berkata: “Tidak apa-apa karena hadits dha`if pun dapat dipakai untuk mengamalkan fadha`ilu-a`mal (amalan amalan yang mulia). Yang terjadi kemudian bahkan hadits itu dijadikan penguat hadits dha`if lainnya dengan meremehkan syarat mutlak yang harus ada yaitu hendaknya hadits tersebut tidak terlalu dha`if derajatnya. Sebagai bukti ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanad dha`if dari Abi Rafi` yang berkata: Aku telah melihat Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam mengumandangkan adzan pada telinga Hasan bil Ali ketika dilahirkan oleh Fatimah binti Muhammad.

Imam Tirmidzi berkata Hadits ini shahih dan hendaknya di amalkan dengan dasar hadits tersebut. kemudian pensyarahnya yakni al-Mubar Kafuri setelah menjelaskan kedha`ifan sanad nya dengan dasar pernyataan para ulama, berkata: Apabila ditanya; bagaimana mungkin dapat diamalkan sedangkan hadits itu dha`if, maka jawabannya ialah: Memang benar hadits tersebut dha`if, akan tetapi menjadi kuat dengabn adanya riwayat lainnya yaitu hadits dari Husain bin Ali, yang di riwayatkan oleh Bau Ya`la al-Maushili dan Ibnu Suni”

Coba kita perhatikan, Bagaimana mungkin hadits menjadi kuat atau dapat dikuatkan dengan adanya hadits maudhu? Dari mana datangnya kaidah tersebut? Sungguh yang demikian itu tidak ada kamusnya dalam sejarah para muhadditsin pada masa lalu hingga hari Qiyamat nanti. Menurut Muhammad Nasiruddin Al-Albani, yang demikian ini dapat terjadi tidak lain karena tidak mengenal kemaudhu`an hadits Husain bin Ali diatas dan juga karena terkecoh oleh komentar atas termuatnya riwayat tersebut dalam karya tulis ulama terkenal atau ulama yang dianggap menjadi panutan.

Memang benar untuk menguatkan hadits Abi rafi yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi itu adalah: adanya riwayat atau hadits atau hadits Ibnu Abbas yaitu: “Sesungguhnya Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam telah mengumandangkan adzan pada telinga Hasan bin Ali ketika lahir dan mengumandangkan iqamah pada telinga kirinya. (Hadits tersebut telah dikeluarkan oleh Baihaqi dalam kitab Syi`b Iman berbarengan dengan hadits Hasan bin Ali)

Kemudian Baihaqi berkata: “Kedua hadits tersebut dalam sanadnya terdapat kedha`ifan”. Pernyataan baihaqi tersebut telah diutarakan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab at-Tuhfah halaman 16.

Namun tampaknya sanad hadits ini lebih baik ketimbang sanad hadits Hasan bin ali yang dapat dijadikan kesaksian atau penguat bagi hadits Rafi tadi. Bila demikian masalahnya, maka riwayat inilah sebagai penguat adanya adzan pada telinga sang bayi saat dilahirkan seperti tercantum dalam hadits Rafi riwayat Imam Tirmidzi tadi. Adapun mengenai mengumandangkan iqomah pada telinga kiri adalah riwayat gharib (asing).

Namun kita kembali lagi pada pernyataan Imam Baihaqi bahwa “Kedua hadits tersebut dalam sanadnya terdapat kedha`ifan”. Dan Bagaimana mungkin hadits menjadi kuat atau dapat dikuatkan dengan adanya hadits maudhu? yang menurut Muhammad Nasiruddin Al-Albani, yang demikian ini dapat terjadi tidak lain karena tidak mengenal kemaudhu`an hadits tersebut dan juga karena terkecoh oleh komentar atas termuatnya riwayat tersebut dalam karya tulis ulama terkenal atau ulama yang dianggap menjadi panutan. Wallahu a`lam bish showab

(Sumber Rujukan: Silsillah hadits2 dhoif dan maudhu, Hadits NO 321, Asy-Syaikh Nasiruddin Al Albani)

126 Tanggapan to “Hadits Adzan dan Iqomah Bagi Bayi Yang Baru Lahir (Hadits Lemah)”

  1. adie kurniawan Says:

    Bismillahirrohmanirrohim
    Assalamu’alaikum Wr Wb.
    Yth: Bapak/Ibu pimpinan
    Kami Lumaga Aqiqah Center menawarkan kambing aqiqah dan qurban. syukron.
    Wassalamu’alaikum Wr Wb

  2. adie kurniawan Says:

    Bismillahirrohmanirrohim
    Assalamu’alaikum Wr Wb.
    Yth: Bapak/Ibu pimpinan
    Kami Lumaga Aqiqah Center menawarkan kambing aqiqah dan qurban. syukron.
    Wassalamu’alaikum Wr Wb

    http://www.laqiqahcenter.blogspot.com

  3. STEVANUS Says:

    ass,,wr,,wb
    ” Sekarang jaman demokarasi mas,,itukan pendapat anda,,islam itu luwes,,tdk ketat,,baca hadist2 yg lainnya dong,, dan buku2 yg lainnya ttg mengajankan “bayi” ini saya kasih sedikit literatur-nya,,anda silakan baca dan cari buku-nya baru berkomentar yang baik trimakasih ikhwan,,semoga sukses,,

    ass,,

    “ADZAN UNTUK BAYI “

    sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abi Rafi’ :

    عَنْ أبِي رَافِعٍ أنَّهُ قَالَ,
    رَأيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أذَّنَ فِيْ أذُنِ الحُسَيْنِ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ
    ( سنن أبي داود )

    Dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ ia berkata: Aku melihat Rasulullah SAW mengumandangkan Adzan di telinga Husain ketika siti fatimah melahirkannya. (Yakni) dengan Adzan shalat.
    (HR Abi Dawud).

    Lalu tentang fadhilah dan keutamaannya, Sayyid Alawi al-Maliki dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il menyatakan bahwa mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri hukumnya sunnah. Para ulama telah mengamalkan hal tersebut tanpa seorangpun mengingkarinya.

    Sayyid Alawi menyatakan, perbuatan itu ada relevansinya untuk mengusir syaitan dari anak yang baru lahir tersebut. Karena syaitan akan lari terbirit-birit ketika mereka mendengar adzan sebagai mana yang keterangan yang ada dalam hadits.

    Sebenarnya kalau kita mau membuka kitab-kitab para ulama, disitu kita akan banyak menjumpai teks-teks yang menerangkan tentang kesunahan adzan untuk bayi.
    Di kalangan Syafi’iyah diantaranya ada:
    1. Al-Imam al-Syaerozi dalam Al Muhadzdzab.
    2. Al Imam al-Nawawi yang menyebutkan tentang kesunahan adzan untuk bayi dalam kitabnya Adzkar, Raudl al-Thalibin, pada bab Aqiqah juz; 2/497, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab: 8/442-443 dan Minhaj al-Thalibin.
    3. Syeikhul Islam Zakaria al-Anshari dalam kitabnya Asna al-mathalib;2/229.
    4. Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya Tuhfah al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj.
    5. Al-Bujairami dalam Hasyiahnya ala al-Iqna’:13/270-271. Dan masih banyak lagi k

    Di kalangan Hanafiyah, Al Imam Ibnu Abidin menjelaskan tentang kesunahan adzan untuk bayi dalam kitabnya Hasyiyah Rad al-Mukhtar. Dalam kitab Malikiyah dapat kita temukan dalam kitab Mawahib al-Jalil:3/319-321. Kemudian dalam kitab Hanabilah dapat kita temukan pada kitab: Al-Iqna’:1/128,2/246, Al-Inshaf: 4/83, Dalil al-Thalib: 1/115 dan Manar al-Sabil:1/191,279 serta lihat juga dalam Al Fiqhu al-Islami dan Al-Fiqhu ala Madzahib al-Arba’ah.
    Kesunahan itu berdasar:
    1. Hadits Abi Rafi’ yang diriwayatkan oleh: Imam Ahmad, al-Hakim, al-Thabrani, al-baihaqi, at-Tirmidzi dan Abu Dawud, beliau al-Tirmidzi dan Abu Dawud menshohihkan hadits ini.
    2. Hadits Husain bin Ali yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la al-Mauwsili dan Ibnu al-Sunni
    3. Hadits Hasan bin Ali Marfu’ dan Ibnu Abbas yang keduanya diriwayatkanoleh al-Baihaqi, dan beliau berkata: keduanya sanadnya lemah.
    Dan ternyata adzan tidak disunahkan untuk sholat fardlu saja

    Mengenai Imam Syaukani, sebenarnya beliau juga telah mengatakan tentang kesunahan adzan untuk bayi, beliau berkata dalam Nail al-Authornya:”fihi istihbabut ta’dzini fi udzunisshobiyyi ‘inda wiladatihi.” Mu’alif kitab Al-Bahr menceritakan kesunahan adzan tersebut dari Hasan al-Bashri, dan berhujjah tentang kesunahan iqamat pada telinga yang kiri terhadap perbuatan Umar bin Abdul Aziz(Nail al-Author:8/164-165). Jika Gus Nur wa man tabi’ahu mengatakan:”Bagaimana hadits itu diamalkan, sedangkan hadits itu adalah dloif, karena terdapat Ashim bin Ubaidillah?” Maka pertanyaan itu dijawab oleh Al-Hafidz Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim dalam kitabnya Tuhfat al-Ahwadzi:”Ya, memang hadits itu dloif, akan tetapi dikuatkan dengan hadits al-Husain bin Ali ra. yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la al-Mawshili dan Ibnu al-Sunni.”

    • fuad Says:

      Terimakasih, sangat bagus. Insya Allah nanti kalo anak saya lahir akan dikumandangkan adzan dan iqomat… Amiiiin…..

    • ikhwan Says:

      anda ini membanggakan demokrasi??nauzubillahi min zaalik!!!.sebaiknya anda jadi ahli hadist dulu, kayaknya anda lebih pinter dari syaikh albani..!!

      • aziz Says:

        segala perbuatan bid’ah itu tempatnya di neraka ..

      • erdete Says:

        setuju. kayaknya emang lebih pintar dari Al-Bani. lagian Al-Bani tuh pinter ga jelas gurunya, sanadnya nyambung kemana juga tidak jelas, orang kalo ga jelas gurunya tuh ruwet. cari pembanding Mas Ikhwan. menganggap orang lain hujjahnya ga kuat, lah orang lain kan berhak juga katakan hujjahnya pengikut Al-bani ga kuat.

    • habibuka Says:

      Assalamu’alakum wr.wb

      Setahu ana pengertian adzan itu panggilan untuk sholat lima waktu. Keutamaan adzan itu menyeru untuk muslim melaksanakan sholat fardhu.

      Syarat untuk adzan menurut ilmu fikih:
      1.adzan dikomandangkan tepat pada waktunya untuk melaksakan sholat fardhu
      2.bersih dari hadast
      3.baligh dan tidak gila
      4.tidak boleh disambung atau bergantian saat mengucapkan kalimat adzan
      5.bukan wanita

      Jadi yang ana ikuti hanya yang masuk akal aja, islam itu mudah dimengerti dan di pahami. Coba antum artikan adzan itu sendiri..?hayya ‘allassholah.. Hayya ‘allalfalah..
      Klw untuk bayi adzan dengan dua kalimat syahadat sendiri setahu ana setiap roh itu sudah dipastikan islam sebelum ditiupkan ke calon bayi.

      Jadi menurut ana di doa kan yg baik”..
      Dan baca kalimat al qur’an.. Alfatihah itu induk’a al qur’an dan 3 surat al ikhlaas.al falakh.an naas. Coba di pahami 4 surat tersebut. Mending kita mengajikan ketimbang mengadzankan.. Sebelum’a ana minta maaf atas komentar ini yang benar datangnya hanya Dari Allah SWT.. Yang salah dari ana karna ana ladang dosa yang tak lepas dari dosa dan saya hanya orang yang masih kekurangan ilmu.

      Wassalamu’alakum wr.wb

  4. Fuad Says:

    Saudaraku, perbanyak baca sholawat..

  5. Dery Says:

    saya juga telah membaca buku terbitan riyad dari pengarang Libya yang mengatakan kelemahan hadits tentang adzan bayi.
    tapi saya masih ragu karena di Indonesia kebanyakan melakukan kebiasaan adzan ini.

  6. wada Says:

    ga tau juga tuh tapi nu penting mah bayi nya lahir selamat
    terus periharalah bayi dengan ajaran islam.
    da ari manusia kumaha lingkungan mau jadi baik atau jahat

  7. Firman Says:

    ah kalo selama itu baik napa nggak

  8. Firman Says:

    azan khan baik, artinya agung, diucapkan ketelinga bayi yg baru lahir artinya mengucapkan kalimat agung, so oke kok

    • fitri Says:

      Azan pada bayi yang baru lahir tidak boleh karena bid’ah.
      lalu gemana?
      gene saja…kalau ada bayi yang baru lahir gak usah diazankan tetapi dinyanyikan saja, umpama;
      TIMANG-TIMANG ANAKKU SAYANG.
      Menyanyi bukan bid’ah karena bukan ibadah.
      Kalau azan bid’ah karena ibadah.
      Inilah cara wahabi membela sunnah. ayo bersama hancurkan wahabi. ach jangan karena wahabi juga Islam? ya tetapi wahabi selalu mengkafirkan orang Islam.

  9. Firman Says:

    kalo perlu ngajiin 30 juz, heran saya kalo anaknya pada hapal lagu barat, pada nyanyi lagu kafir kok nggak dibahas ya, malah suara azan yg di bahas, payaaahhh

    • fuad Says:

      semoga anak-anak kita kelak menjadi anak yang mengenal Allah SWT dengan dikenalkannya semenjak bayi seperti mengumandaknan adzan dan iqomat,… Amin…

  10. feri Says:

    Yg komentar kok pada guoblok ya,ni hadis membahas adzan dan iqomah pada bayi baru lahir bs melindungi bayi dari jin,adzan emang bagus tp melindungi dari jin itu yg ra mutu,kl goblok mending sekolah dulu deh,gak usah komentar

  11. mas@dee Says:

    lho yang terakhir marah-marah ya…
    yang marah-marah kan temennya ???

  12. jaytona Says:

    Hhahaha lucu ada yang marah2 nih. Tujuan azhan itu mulia,kalo yang di bahas mengenai azan ke bayi untuk melindungi dari jin,Yang salah juga yang nulis Judul.Harus nya di Judul juga di tulis “…untuk melindungi Bayi dari JIN”. Jadi ga salah paham.

    Kalo dengan judul seperti itu. saya juga berani nabok muka anda karena justru anda yang memecah belah pengertian sesungguhnya azan untuk bayi.

    • aswad Says:

      eh….lu jangan gitu ngomong nya….ngomong pke ilmu dong,,,,jgn dari otak yg tebak”an….

      makanya klo masalah agama..jgn berpikir di luar agama…
      ini agama….tau gk..
      Diam aja klo tk tau tentang agama lebih dalam…

  13. Iyonk Says:

    sesuatu yang baik harus mengikuti hukum asal,bukan baik menurut hati kita.
    kalau memang dhoif itu tidak bisa dijadikan pegangan, ya sebaiknya kita ambil saja yang shohih kan masi banyak hal-hal lain yang kita tidak sempat amalkan.

    • nofrial eko putra Says:

      yup, sependapat.. gunakan saja hadits-hadits yang shahih. kenapa musti menggunakan hadits-hadits dhoif, terlebih lagi kalau haditsnya maudhu’, kan masih banyak hadits-hadits yang shahih mengenai bagaimana tata cara Rasulullah memperlakukan seorang anak yang baru lahir. ini mungkin lebih baik.. silahkan merujuk ke kitabnya masing-masing agar dapat lebih bertanggung jawab.

  14. Bawal Says:

    Yang adzan di komentari kalau menanam ari-ari di sebelah kiri atau kanan lalu di beri lampu ngak di komentari ayo di komentari dong ? ( kalau di hapus ngak apa-apa Ingat Allah Maha Mengetahui )

  15. Vicky Says:

    Masalah adzan aja koq ribut sich…..gmn umat ini bisa maju..???

  16. ahmad Says:

    ada lg satu amalan yaitu doa unt bayi baru lahir.
    inni u’iidzuka bikalimaatillaahit min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin
    artinya
    aku berlindung untuk anak ini dg kalimat Alloh yang sempurna dari segala gangguan syaitan dan gangguan binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat buruk bagi apa yang dilihatnya.

  17. mose Says:

    YA UDAH JANGAN PADA RIBUT,MARI KITA MINTA PETUNJUK DARI ALLAH MELALUI PERKATAAN NYA YAITU AL QUR’AN, KALAU SAMAR2 DAN RAGU LEBIH BAIK TINGGALKAN SAJA PERKARA TERSEBUT

  18. Abu Nada Says:

    Apabila terjadi perselisihan kembalilah kepada Al-Qur’an dan As-Sunah. Bila ragu tinggalkan dan bila yakin berdasarkan sumber yang shohih kerjakan. Ingatlah “Barang siapa menyelisihi Sunah Rosululloh maka, Alloh akan mendatangkan cobaan bahkan azab yang membinasakan”.

  19. Bawal Says:

    Sekali kali komentari saja yang menanam ari-ari di sebelah kiri atau kanan lalu di beri lampu karena sampai sekarang masih ada yang melakukan ( Bila di hapus ngak apa-apa )

  20. barkah Says:

    Adzan itu yang saya tahu panggilan untuk mengajak kita sholat. Bayi mana ngerti untuk sholat. yang udah gede ajah banyak yang cuek denger adzan. Pendapat saudara Ahmad bagus juga tuh.

    • ulil Says:

      Adzan yang setahu anda adalah panggilan untuk mengajak orang shalat, makanya anda harus banyak belajar supaya jangan asal nulis seperti yang punya blog ini dan juga anda.

    • aswad Says:

      iy neh…lu tau nya adzan untuk shalat…ngomong pke ilmu dong..jgn kluar dari pikiran lu aja…
      byk” belajar dulu tentang agama..
      baru komentar.,,,,

  21. Bawal Says:

    Kepada Barkah di kampung anda pasti ada kelahiran bayi lalu ari-arinya di tanam di sebelah kiri atau kanan lalu di beri lampu kalau bisa di tegur ini bid’ah ngak ada dalilnya

  22. Naufal Rabbani Says:

    kalau begitu ana minta petunjuk jadi kalau bayi baru lahir apa yang yang mesti dilakukan..kebetulan saat ini istri ana lagi hamil..terima kasih atas jawabannya…Jazaakumullahu Khairan Katsiran

  23. Bawal Says:

    Pak Naufal Rabbani masalah adzan untuk bayi hanya perbedaan fiqih para Ulama maka pakailah fiqih Ulama yang memperbolehkan bila ada yang melarang mengazankan untuk bayi biarkan saja

  24. budi Says:

    yang mati aj di adzani,knp yg baru di perdebatkan????
    di lingkungan sy mitos yg ad tujuan adzan bg bayi yg baru brojol,yaitu agar supaya anak di jauhi dr godaan syaithonirrojim dan kelak menjadi orang yg rajin sholat/mnyegerakan sholat!!!!!!

  25. budi Says:

    yang mati aj di adzani,knp adzan u/ bayi yg baru lahir di perdebatkan????
    di lingkungan sy mitos yg ad tujuan adzan bg bayi yg baru brojol,yaitu agar supaya anak di jauhi dr godaan syaithonirrojim dan kelak menjadi orang yg rajin sholat/mnyegerakan sholat!!!!!!

  26. Bawal Says:

    Saya yakin masalah adzan bagi bayi yang baru lahir akan di perbolehkan seperti masalah tawassul oleh Ulama Mekkah

  27. mukmin Says:

    asallamualaikum wr wb….,
    Hai saudara ku seiman,tolong dong banyak-banyaklah membaca al quran dan tadaburilah..!
    tuh azan kegunaanya untuk memanggil orang sholat,gak ada orang mati diajak sholat dan bayi diajak sholat,tempat dan kegunaanya sudah ada aturanya,masa baju dipakein untuk celana..!kurang waras kali ya..!semua baik kalo gak ada perintah dari alquran dan sunah jangan dikerjakan,Islam ini udah sempurna sepeninggal Muhammad SAW,KALO KITA MASIH MENGERJAKAN YG tdk diperintah oleh Rasul berarti kita menganggap islam itu blm sempurna sehingga kita menambah satu perkara lagi,gitu lho………! pake otak bukan pake nafsu emosional choooiii…

    • abika Says:

      Akhii…..

      Ini permasalahan ihktilafiyah…….mereka yg setuju dan tidak setuju jg punya dasar spt yg diatas disampaikan…..

      Justru anda juga terjebak dalam emosi mereka….

      afwan jika tak berkenan……
      wassalam

    • ulil Says:

      Disurat mana dan ayat berapa ada masalah azan dalam Al-Quran, dan Hadits riwayat siapa dan dalam kitab apa dikatakan bahwa azan hanya untuk memanggil orang shalat saja. anda seorang mukmin tetapi terlalu kasar dalam berkata, sebaiknya anda tidak usah memakai otak tetapi anda harus pake akal jika anda mempunyai akal.

      • muchson Says:

        damai… damai… kang! apa gak sebaiknya klo kita saling menhargai perbedaan pandangan. bukankah sejak dulu khilafiyah khususnya dalam hal-hal furu’ sudah lumrah terjadi?
        sebaiknya kita tdk saling mengolok.

      • Irfan Says:

        saudara ulil,
        kalau orang beragama liberalisme maka dia beribadah dan beramal hanya pakai akal.
        Dalam agama kami, Islam, beribadah haruslah berdasar dengan al-Qur’an dan Sunnah Rosul. Kalau tidak ada perintahnya tidak kami lakukan.
        Beda dengan muamalah, selama tidak ada larangan maka boleh.

  28. Bawal Says:

    Siapa yang sudah mendakwahi orang yang menanam ari-ari bayi di sebelah kiri atau kanan lalu di beri lampu silahkan menentang adzan untuk bayi yang baru di lahirkan bila nanti ada fatwa terbaru tentang adzan untuk bayi yang baru di lahirkan harus bertanggungjawab

  29. budi Says:

    Dari pada ribut yg g ad abisnya,mending shohib2 bantuin Q cari nama yg baik+islami buat calon bayiQ yg d predixi lahir bulan september/ramadlan,syukron katsir ya akhiiii……..

  30. Bawal Says:

    Mas Budi ingin lihat tentang adzan dan iqomah untuk bayi yang baru lahir di http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=new_view&new_id=12720 bila di hapus berarti tidak menghormati

  31. What Says:

    mas mukmin, sesuai nmnya Anda hrs beriman. Islam mmg sdh sempurna, tp mnsnya blm sampai pd derajat yg sempurna. Mk Ulama sbg pewaris pr nabi akn trs berijtihad pd hal2 yg fenomenal. Nah, klo Anda gak setuju dg amaliah org lain ga usah blg bhw itu adl amaln yg ga ada dsrnya, yg pd ujung2nya bilang bid’ah. Mslhnya, yg blg bid’ah jg ia ga tau persis bhw yg dilakukan org itu apakh btl2 ga disetujui Nabi Saw. Nah, klo itu disetujui, apakah ga cilaka mencrit..alias bahaya jatuh pd sih penuduh. Banyak sahabat nabi yg di kala Nabi hidup, melakukan hal2 yg ga diajarkan nabi, namun ttp dibiarkan(disetujui). Mmg Nabi skrg sdh ga ada, mk justru dr itulah kt jgn mejustifikasi hal itu salah. Krn
    klo ternyt benar, mk hukum dlolalah jth pd si penuduh. Mhn mf ats kmtr sy.

  32. chocholatest.. Says:

    Assalamualaikum ya akhi..
    Sblmnya saya mohon maaf Apabila ada yg tidak sependapat dgn saya..
    Saya sangat sependapat dengan akhi what diatas,untuk akhi mukmin, jgn anda menyebut semua apa yg anda tidak sependapat sebagai bid’ah. Allahu a’lam, menurut saya,adzan ketika bayi lahir (menyebut keagungan Allah) sebelum bayi itu mendengarkan sesuatu yg lain
    Selain adzan,adalah hal yg sangat baik dgn harapan kelak anak tersebut menjadi anak yg sholeh dan sholehah,hidup yg istiqomah dan kelak mati husnul hotimah..
    Saya tidak menyebut anda salah,karena saya yakin,anda jg pny dasar ttg pndapat anda. Cuma yg saya sayangkan, jangan selalu menyebut ssuatu yg anda tdk setuju sebagai bid’ah. Allohu a’lam.
    Di ibaratkan, misalkan kita bersuudzon kpd sseorang ,dan trnyata pd kenyataanya seseorang itu tidak sama dgn apa yg kita fikirkan, berati kita telah memfitnah orang itu meskipun cuma dalam pikiran,,n QTa semua tau bahwa fitnah itu lebih kejam dari Pd membunuh…

  33. xxx Says:

    sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abi Rafi’ :

    عَنْ أبِي رَافِعٍ أنَّهُ قَالَ,
    رَأيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أذَّنَ فِيْ أذُنِ الحُسَيْنِ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ
    ( سنن أبي داود )

    Dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ ia berkata: Aku melihat Rasulullah SAW mengumandangkan Adzan di telinga Husain ketika siti fatimah melahirkannya. (Yakni) dengan Adzan shalat.
    (HR Abi Dawud).

    Sebagai umat Rasullulah, kita ikuti apa yang imam kita lakukan.

    wassalamualaikum wr wb

  34. Bawal Says:

    Yang menentang adzan dan iqomah bagi bayi yang baru di lahirkan pasti mau menerima hantaran aqiqahan bayi yang baru di lahirkan yang sudah di adzani dan di iqomati . Ingat Allah Maha Mengetahui

  35. keno Says:

    wahaby ya??

    • fuad Says:

      iya, wahabi kayaknya sih… Allah toleran kok.. masa mau adzan di telinga anak sendiri nggak boleh? ngasi duit ke satpam biar rumahnya diawasi dan dilindungi dari penjahat aja boleh, kenapa ngadzanin (yang di dalamnya terdapat lafadz Allah SWT dan Rosulillah) di telinga anak biar Allah SWT melindungi dari jin di larang? ya sudahlah, masing-masing. Lanaa a’maalunaa wa lakum a’maalukum…

  36. Pena Jihad Says:

    Assalamu’alaikum Waromatullohi Wabarokatuh

    wah seru ya debatnya. tapi….. sebaiknya berdebat jangan dengan nafsu dan emosi. berdebatlah secara Islami, pergunakan dasar-dasar hukumnya al-Qur’an dan as-Sunah. apalagi sampai melemparkan tuduhan kepada saudaranya sendiri. maaf yang awam termasuk saya sendiri jadi tidak terdidik.

    jazaakumullaahu khoiron

  37. Yasir Says:

    Aslmkum,…
    Simpel saja sih,… pkoknya apa2 yg g pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, ya jgn dikerjakn. Dgn bgitu, insyaAllah kita akan slmt dr wabah bid’ah.

    • ulil Says:

      Ne Wahabi gaya baru. bagaimana cara mengetahui bahwa apa yang kita kerjakan itu ada diajarkan oleh Rasulullah? kita mau amalkan azan pada bayi karena kita berkeyakinan bahwa itu ada dilakukan oleh Rasullullah berdasarkan hadits yang menurut Imam Turmuzi adalah Hadits itu SHAHIH. tetapi albani mengatakan DHAIF bahkan MAUDHU’.
      Kita harus percaya siapa? Turmuzi yang KONSISTEN atau Albani yang PLIN-PLAN.

      • nofrial eko putra Says:

        yup, sependapat.. gunakan saja hadits-hadits yang shahih. kenapa musti menggunakan hadits-hadits dhoif, terlebih lagi kalau haditsnya maudhu’, kan masih banyak hadits-hadits yang shahih mengenai bagaimana tata cara Rasulullah memperlakukan seorang anak yang baru lahir. ini mungkin lebih baik.. silahkan merujuk ke kitabnya masing-masing agar dapat lebih bertanggung jawab. tapi.. ups..! kok malah ngatain orang lain sih..? terlebih lagi beliau adalah seorang ulama dan belum tentu toh kita lebih baik dari beliau juga kan..!

    • Aini Says:

      dan yang tak kalah penting pokoknya apa kata/pendapat Albani bagaimana iyakan Mas Yasir. Sbab boleh jadi ada dll…….

  38. Bawal Says:

    Di daerah saya ada yang tidak setuju dengan adzan dan iqomah bagi bayi yang baru di lahirkan tapi mau menerima hantaran aqiqahan bayi yang sudah di adzani dan iqomati

  39. Bapa' Baru Says:

    saya jadi bingung nih…!!!

  40. Anto Says:

    Wah ternyata begitu ya. Terimakasih telah diingatkan. Mslhnya kita sedang menunggu kelahiran anak pertama.

  41. Adi Says:

    gini aja, gw juga bingung sama anak2 muda yang belakangan hadir dengan celana agak cungkring, jenggot tebal, jidad pada item. gak ngerti gw kenapa mereka2 “kebanyakan” menyepelekan ulama2.

    nyari ilmu-nya dimana sih mereka? dan setinggi apa sih ilmu mereka yangg “sebagian” dari mereka dengan lantang mengatakan aktifitas yang sudah sering dilakukan itu doif, dll..

    bagi gw, selama “budaya” atau “hadist yang bagi mereka doif” gak bertentangan dengan agam atau hadist2 lain, gw jalanin.

    padahal dimana2, yg gw denger, orang2 semacam itu gak pernah menang berdebat dengan ahli kitab. kenapa? ya karena para ahli kitab itu gak cuma belajar dari internet, buku2 yang dijual di toko buku. tapi mereka itu bener mempelajari kitab dan sebagian besar mereka mempelajari nahwu.

    untuk urusan agam, belajar tanpa guru itu guru syaitan.

    jadi intinya, selama itu baik tujuannya, gak salah dalam kaidah islam, ya gak usah dikatakan salah/dosa melakukan itu. masing2 respect lah dengan aqidahnya.

    • balas Says:

      Mas Adi … aqidah kita ( termasuk anda ) adalah aqidah Islam. Jadi tulisan anda itu salah kalau “masing-masing respect lah dengan aqidahnya” yang benar “masing-masing respect lah dengan pendapatnya. Kemudian ada lagi tulisan mas –> “selama itu baik tujuannya, gak salah dalam kaidah islam, ya gak usah dikatakan salah/dosa” –> Begini mas, Islam itu meupakan agama yg sudah sempunah, di dalamnya itu tedapat tata cara beribadah dan bermuamalah yang sudah diatur. Jadi dalam beribadah kita tidak boleh asal ibadah saja tetapi tidak ada landasannya. Mengenai azan ini, saya pribadi tidak mau berkomentar, silahkan saudara-saudara sesama muslim punya pendapat sendiri-sendiri, asalkan pendapat tsb dapat dipetanggung jawabkan dihadapan Allah dan dapat diargumentasikan secara ilmu ( dengan dasar yang shahih ), tidak perlu kita sesama muslim saling ejek, lebih baik kita bediskusi jadi kan lebih enak.

  42. cundink Says:

    assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    kalau saya sih cari amannya

    kemungkinan terbaik kalau hadis itu benar 100% adalah kita dapat pahala dan fadilah-fadilahnya

    kemungkinan terburuk kalau hadis itu salah adalah kita berdosa dan bisa jatuh pada perkara yang tidak dilakukan, disetujui, atau didiamkan rasulullah

    dan yang paling aman, amalkan saja amalan-amalan yang sudah 100% shahih.

    senyum donk senyum donk jangan cemberut

    wa alaikum salam waramatullahi wabarakatuh

  43. agung pambudi Says:

    Assalamualaikum wr. wb
    Betul sekali mas Cunding. Banyak hadits yang tidak mempertentngkan satu sama lain atau kita bisa katakan 100% tidak ada pertentangan. Nah hadits yang masih ada pertentangan sebaiknya kita tinggalin dulu, toh kalau memang itu sunah kita tidak mendapat dosa dan pahala. Tapi kalau memang ternyata hadist itu dho’if kita juga tidak mendapatkan dosa, jadi cari aman nya saja yang benar benar tidak ada pertentangan.

    Wassalamualaikum wr. wb.

  44. wong dheso Says:

    Setelah mengetahui yang menentang adzan dan iqomah bagi bayi yang baru lahir sudah mengetahui dalilnya sholat isyroq, tidak mengerak-ngerakkan telunjuk jari,sudah mau zikir panjang habis sholat wajib, ketika akan sujud tidak tangan dulu maka adzan dan iqomah bagi bayi yang baru lahir saya sangat setuju

  45. afrizal Says:

    alangkah baiknya kalau dalam pembahasanya di berikan secara obyektif tidak terkesan berat sebelah

    ini merupakan alternatif dalam menyikapi hal diatas
    daya ambil dari link

    http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/dalil-tentang-azan-dan-iqomat-bagi-bayi-lahir.htm

    Sungguh suatu kebahagiaan jika kita mendapati kaum muslimin di dalam setiap aktivitas ibadahnya kepada Allah swt berlandaskan dalil, baik Al Qur’an maupun As Sunnah, sehingga akan terpelihara dari kesesatan dan kesalahan.

    Di antara hadits-hadits yang dipakai sebagai dalil untuk menyuarakan adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri adalah :

    1. Sabda Rasulullah saw: “Siapa yang diberikan bayi kemudian diadzankan di telinga kanan dan mengiqomatkan di telinga kiri maka tidak akan terkena bahaya gangguan setan.”

    Hadits ini maudhu’ (palsu) : Ia diriwayatkan oleh Abu Ya’la didalam “Musnadnya” (4/1604), darinya Ibnu as Sunni didalam “Amal al Yaum Wa al Lailah” (200/617) demikian juga Ibnu ‘Asakir (16/182/2) melalui jalan Abi Ya’la, Ibnu Basyron didalam “Al Amaali” (88/1), Abu Thohir Al Qursyi didalam “Hadits Ibnu Marwan al Anshori dan selainnya” (2/1) dari jalan Yahya bin al “Alaa ar Rozi dari Marwan bin Sulaiman dari Tholhah bin Ubaidillah al Uqoily dari al Hasan bin ali marfu’

    Aku (Syeikh Albani) mengatakan : :”Sanad hadits ini maudhu’ (palsu), Yahya bin al ‘Ala, Marwan bin Salim yang menjadikan hadits ini maudhu’ dan diperkuat oleh Ibnul Qoyyim dalam “Tuhfatul Maudud” hal. 9 milik Al baihaqi dan dia mengatakan : Isnad hadits ini dho’if (lemah).

    2. Sabda Rasulullah saw : Dari Abu Rofi, “Aku menyaksikan Rasulullah saw mengadzankan dengan adzan sholat di telinga Hasan saat Fatimah melahirkannya.”
    Tirmidzi mengatakan : ”Hadits Shohih dan diamalkan.”

    Al Mubarokfuriy yang menjelaskan hadits ini mengatakan setelah dia menjelaskan kedhoifan sanadnya dan berdalil dengan perkataan para imam dalam riwayat ‘Ashim bin Ubaidillah : “Jika engkau mengatakan : Bagaimana beramal dengannya padahal ia dhoif (lemah)? Aku mengatakan : “Ya, hadits ini lemah akan tetapi dia diperkuat oleh hadits Husein bin Ali ra yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la al Mushiliy dan Ibnu as Sunni.” !

    Perhatikanlah, bagaimana dia menguatkan yang dhoif dengan yang maudhu’, dan tidaklah itu (dilakukan) kecuali dikarenakan tidak adanya pengetahuan terhadap kemaudhuannya dan pengelabuannya terhadap keinginan para ulama yang kami sebutkan dan hampir-hampir aku pun jatuh seperti itu, maka perhatikanlah!

    Ya, barangkali penguatan hadits Abi Rofi’ dengan hadits Ibnu Abbas : “Bahwasanya Nabi saw mengadzankan di telinga Husein bin Ali pada hari kelahirannya dan mengiqomatkan di telinga kirinya.” dikeluarkan oleh Baihaqi di dalam “Asy Syu’ab” bersama hadits Hasan bin Ali dan dia berkata: “Di dalam sanad keduanya ada kelemahan.” Seperti juga disebutkan Ibnul Qoyyim didalam “at Tuhfah” hal. 16.

    Aku (Syeikh Albani) mengatakan :”Bisa jadi sanad yang ini lebih baik dari sanadnya hadits Hasan dikarenakan bisa memberikan persaksian terhadap hadits Rofi’. Wallahu A’lam.”

    Jika demikian, maka hadits itu bisa menjadi dalil untuk menyuarakan adzan karena ia juga terdapat dalam hadits Abi Rofi’. Adapun iqomat maka ia ghorib (lemah). Wallahu A’lam
    (Silsilah al Ahadits adh Dho’iifah Wal Maudhu’ah, jilid 491 – 493

    Jadi dari penjelasan di atas tampak bahwa hadits-hadits tersebut termasuk kategori dhoif (lemah).

    Namun demikian, terjadi perbedaan ulama dalam hal beramal dengan hadits yang dhoif :

    1. Pendapat pertama : Tidak boleh sama sekali beramal dengan hadits dhoif, tidak dalam hal keutamaan ataupun hukum. Ini adalah pendapat Yahya bin Ma’in, Abu Bakar al ‘Arobi, Imam Bukhori dan Muslim dan juga Ibnu Hazm.

    2. Pendapat Kedua : Dibolehkan beramal dengan hadits dho’if. Ini pendapat Abu Daud dan Imam Ahmad.

    3. Pendapat Ketiga : Dibolehkan beramal dengan yang dhoif dalam hal-hal keutamaan, nasehat-nasehat dan yang sejenisnya selama memenuhi persyaratan—sebagaiamana disebutkan oleh Syiekhul islam Ibnu Hajar—yaitu :
    1. Dhoifnya tidak keterlaluan.
    2. Termasuk dalam pokok-pokok yang diamalkan.
    3. Tidak meyakini bahwa amal itu betul-betul terjadi akan tetapi meyakini secara hati-hati.
    (Ushul al Hadits ‘Ulumuhu Wa Mushtholatuhu, DR. Muhammad ‘Ajjaj al Khotib, hal 351)

    Wallahu A’lam

    • erdete Says:

      itukan menurut Al-Bani, die aje ga jelas belajar ma siape, tau-tau vonis hadits ini palsu, yang sana dhaif. masalah utama pengikut Al-Bani tuh ga mau menerima pendapat ulama lain. mending banyak-banyak zikir, jangan terlalu sibuk ngurusi khilafiyah, karena khilafiyah itu urusannya ulama (yang bacaan Qur;an-nya bener, ngaji ada gurunya bukan dari buku-buku terjemahan, gurunya jelas sanadnya sampai ke Rasulullah)

  46. A'an Pati Says:

    DHOIF menurut Siapa…???? Soheh menurut siapa…..???? Tergantung yang ngomong, tergantung kitab yang dipakai, tergantung…. namanya juga kilafiyah….. dari jaman dulu dah ada dan gak perna ketemu…. Kalo saya sih lebih sepakat pake Jumhur Ulama…. Nggak hanya satu Syekh saja… mau dari Albania, dari Jeddah mau dari Dago…

  47. Bahrul Ulum Says:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.

    Alhmadulillah..kebetulan saya juga sedang mencari informasi tentang tata cara menghadapi saat-saat setelah kelahiran. Dan saat ini adalah untuk kelahiran putra/putri kedua saya (Insya Allah). Namun ternyata yang saya dapati adalah pembahasan shoheh,dhaif dan maudu’ nya soal azan ya..

    Terus terang saya mengikuti aliran dari Mazhab Imam Syafi’i , yang oleh orang tua dan juga guru(ustad) yang saya ikuti mengajarkan saya untuk mengazankan dan mengiqomatkan bayi yg baru lahir.

    Saya memaklumi akan tulisan yang mungkin juga pendapat dari penulis artikel di blog ini.Karena ,dari dulu yang namanya fikih, memang selalu menjadi perdebatan diantara para ulama.Makanya muncul banyak Mazhab atau aliran.

    Akan tetapi melihat seru nya komentar yang muncul, saya yang orang awam jadi agak miris ya.. apakah begini cara sesama saudara muslim dalam mensikapi perbedaan ? BUkankah kita juga diajarkan untuk saling menghargai perbedaan. Dan Nabi SAW juga telah mensiratkan bahwa akan muncul 73 aliran sepeninggal Nabi(Betul ndak ya ?).

    Maaf sekali lagi saya hanyalah orang awam, saya hanya ingin atmosfer perbedaan ini tidak membuat suasana sesama saudara Muslim menjadi panas. Hendaknya kita bersatu padu membangun Komunitas Muslim, agar kita kuat dalam menghadapi rintangan dari Non Muslim yang akhir2 ini semakin kencang mengguncang Islam, baik secara fisik maupun dari budaya.

    Dan ini adalah pendapat saya , soal azan pada bayi , baik itu dikatakan shoheh,dhaif ataupun maudhu , karena ini sunnah , maka jika dikerjakan mendapat pahala, jika tidak , juga tidak mengapa. Tapi karena azan sendiri adalah sebuah “Kalimat” yang baik, yang didalam nya diantaranya menyerukan orang utk :”menuju kepada kemenangan hakiki dan abadi” (Selain tentu ada seruan utk Sholat , Syahadat,dll) maka saya yang awam merasa perlu juga utk menyurakan azan ke telinga bayi saya , dengan harapan semoga bayi saya lebih dulu mengenal ” Suara” dan “kalimat” yang baik dari Ayahnya.

    Terakhir, terlepas dari perbedaan ini , saya menghormati kepada yang setuju dan yang tidak setuju tentang hukum Azan ini.
    Dan saya mohon doa kepada semua nya agar anak saya lahir dengan selamat dan menjadi anak yang sholeh/sholehah. Amieen..

    Wassalamu’alaikum Wr.Wb
    Salam Ukhuwah
    Bahrul Ulum

    • fuad Says:

      Terimakasih, sangat bijak. Barokalloh..
      Semoga anaknya kelak menjadi anak yang soleh/solehah serta mengenal Allah SWT dari dalam jiwa sanubarinya yang paling dalam… Amin.

      Saya juga sedang mencari-cari tentang tatacara adzan untuk kelahiran anak saya yang saat ini tengah dalam rahim bundanya. Dan saya mendapati komentar anda, hingga menjadi damai suasana hati ini.

  48. ambar bawono Says:

    Assalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhu

    Saya ambar yg insyaallah anaku akan terlahir kedunia ini bulan depan mohon doa restunya
    Melihat perdebatan seperti ini saya jadi gatal2 nih

    Kalo diliat diatas, ada yg setuju sama yg tidak terlihat seimbang bahkan seperti terlihat ingin saling membunuh….

    Kalo menurut saya antara bid’ah dengan yang tidak itu tergantung manusianya saja yg membacanya….
    Kalo saya akan tetap akan saya bisikan kepada calon anakku adzan dan iqamah…
    Karena apa?? Dengan awalan salam “assalamualaikum warah matullaahi wabarakatuh” kepada calon anakku nanti baru adzan dan iqamah untuk mengucapkan selamat datang dan memang keinginanku untuk mengumandangkan yg pertama kali ditelinganya untuk pendengaran pertamanya, bukan untuk maksud lain seperti hal diatas yg mengatakan untuk mengusir jin lah apa setan lah….
    Sebenernya niat yg seperti itu lah yg membuat bid’ah
    Mendewakan kalimat yang mempunyai tujuan tertentu yg kemudian dibudayakan dan mempercayai bahwa kalimat tersebut menjadi aji aji(bahkan bisa menjurus ke syirik).

    Ga usah adzan kalimat yg di dalam kitab alquran sendiri juga banyak ko yg dipersepsikan salah.
    Semuanya ga bakal ada jaminan tanpa ada keikhlasan…
    Itu intinya….
    Betul itu kalimat “legowo”, sama dengan “ikhlas”, ini bisa menjadikan kehidupan kita tidak selalu menghakimi bahwa “ini salah,itu salah, ini benar dan itu benar”…
    Selama kalimat itu diartikan baik dan diterima dengan lapang dada anggap bahwa kalimat tersebut sebagai referensi doa atau pendapat seseorang (walaupun tidak termasuk sunnah tapi bermaksud baik anggap itu sebagai pendapat) selama itu tidak menyimpangkan hati kita

    Yang menerima monggo yang tidak terima juga monggo demikian pendapat saya adanya….
    Berlapang dada dari setiap masukan atau nasihat yang terucap dari orang lain walaupun keluarnya dari mulut seorang anak kecil,atau hamba sahaya, atau bahkan dari musuhmu sendiri, niscaya kamu akan dibukakan suatu rahasia lagi tentang tuhan yang kamu sembah amieen آمِّينَ ….
    (Pasti pernah dengar ini juga dong, walaupun dengan versi yang berbeda karena ini menurut perkataan saya yang mungkin masih banyak salahnya, semuanya masih perlu banyak pembenahan dari saya pribadi)

    Sekian dari saya dari ambar yg berharap memiliki anak yang shaleh (harapan setiap orang tua) آمِّينَ

    wassalamu alaikum warah matullahi wabarakatuhu

    PS: aku berharap doa restunya dan doanya dikirimkan ke alamat email ini ya, ambar32@indosat.blackberry.com
    Terimakasih banyak

  49. ambar bawono Says:

    Satu lagi

    Jangan memperdebatkan agama sendiri untuk persepsi yang sudah didapat sehingga orang yang kita debat mengikuti aliran agama yang dipelajarinya (mengislamkan orang yang sudah islam)
    Apa ga mubazir???
    Mendingan mendebatkan supaya agama lain diajak untuk menjalankan agama islam dan masuk kedalam agama islam, ini lebih berguna ketimbang mengislamkan orang islam
    “Stop civilwar brother”
    Itu yang membuat nama islam jelek dimata agama lain….

    Dan semakin mudah agama lain itu menyusupi hati islam sendiri bahkan sampai kejantungnya bila terjadi seperti ini……………..
    Please stop for your own good

    Ga ada salahnya untuk mencoba
    Mungkin yang mengislamkan orang islam itu (maaf), dia tidak berani atau belum cukup wawasannya kali yah kalo ke agama lain, makanya bisa jadi pada berdebat dengan sesamanya dan menjadi budaya atau hobby…………

    Semua yang menganggap sesuatunya itu berlebih2an itu kurang baik, walaupun itu datangnya dari sebuah kebenaran (maaf) dalam konteks yang membuat waktu kita terbuang sia sia, menjadikan tali silaturahmi terputus, yang mengakibatkan emosi, memperpanjang sebuah masalah dan lain2 bentukanya (astaghfirullaahhal adziim)
    Mudah2an kita semua terhindar dan dijauhi hal2 yang seperti itu, bila terlanjur masuk cepat ingat untuk menyudahinya dan tidak mempermasalahkan lagi
    آمِّينَ
    Terimakasih bila berkenan

  50. Abusarah Says:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh
    Yang paling penting, perbedaan itu jangan sampai memecah belah persatuan umat Islam. Jika keyakinan anda terhadap hadits-hadits tersebut shahih, silakan lakukan. Jika keyakinan anda hadits-hadits itu dhaif/ maudu’ silakan tinggalkan alias jangan lakukan. Namun tentu saja, siapapun kita harus terus mencari ilmu dan jangan berhenti mencari ilmu.

    Wassalam….

  51. Rumah Adhwa Says:

    yuk saling menghargai perbedaan

    • fuad Says:

      setuju….!!!! dan tidak saling menyalahkan pendapat orang…. dan tidak menghakimi amal orang lain diterima atau tidak, karena hakim yang menentukannya adalah Allah SWT…..

  52. syai Says:

    yok kita baca ALQURAN dan Kitab2 Fiqh Islam.
    perbanyak membaca, menghayati serta mengamalkan.

  53. khoirul Says:

    terus azan tuk bayi tu bid’ah bukan?

  54. Jarwanto nugroho Says:

    Assalamwrwb.
    Sesungguhnya MANUSIA yg paling mulia disisi 4JJI adalah derajat KETAQWAANYA (Al Qur’an) Kenapa kita terjebak pd kilafiah yg ujung2nya memecah belah umat. Selama masih ad syiar dan silaturahmi ISLAM itu kuat. Itu tujuan mereka penebar syirik klu umat Islam bersatu. Jaga ukhuwah Islamiah

  55. wiensolution Says:

    Assalamualaikum..

    Alhamdulillah,… Allah telah memberi karunianya kembali kepada ana…berupa titipan.. yang insya Allah bulan juli istri ana melahirkan anak ana yang kedua..
    mohon doanya… semoga sehat dan menjadi anak yg sholeha..

    Ana cuma mau sharing aja dan berbagi info..
    masalah Adzan untuk bayi baru lahir.
    penjelasan asal muasal hadist -hadist dhoifnya..
    silahkan di download filenya..
    linknya adalah :

    http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=10&ved=0CFgQFjAJ&url=http%3A%2F%2Fimages.wiranatanm.multiply.multiplycontent.com%2Fattachment%2F0%2FRsv%40hQoKCpEAABAHF1A1%2FAdzan%2520pada%2520Telinga%2520Bayi.doc%3Fkey%3Dwiranatanm%3Ajournal%3A109%26nmid%3D54759776&rct=j&q=masalah%20adzan%20untuk%20bayi&ei=pVjLTcODDtGtrAeU-r2JBA&usg=AFQjCNHQfZrI50QquV2H3ajUjo2z8CcW5A&sig2=Xn8hBmqXM9015LhhwMtFpA&cad=rja

    jadi cukup di copy saja link tersebut .. kemudian paste kan di web bwosing..

    semoga bermanfaat..
    dan kita diberi hidayahnya untuk selalu belajar ..

    amien.

  56. elqib azza Says:

    maaf,,,,menurut saya anta hanya menggiring/untuk mengikuti pendapat albani aja,betul memang begitu adanya pemahaman albani,tp apakah albani selevel Imam turmud
    zi n Ibnul Qoyyim,dari sini bisa dilihat perbedaannya Albani ulama yg diakui kealimannya hanya oleh orang2 yg sefaham dengannya aja,tapi klo imam turmudzi n Ibnul qoyyim dan ulama lain yg sefaham ahlussunah wal jamaah adalah mayorits ulama yg berkopenten dalam bidangnya dan memang diakui kengalimannya,maaf aku dah buka blok yg kau tulis,tapi yah tdk obyektif gitu lo,,,,yah slamat atas akan kelahiran anakmu,mg2 lahir slamat tdk usah diazan iqomat(kan sesat jangan2 malah ngundang syetan nanti) mendingan di bacain lagu2 campur saru aja,,,kan gaul….

  57. agung Says:

    masalah khilafiyah hanyah masalah cabang padahal intinya Tauhid & Ukhuwah Islamiyahnya, Khilafiyah itu pendapat para Ulama fikih (ulamanya juga ga saling menjelekan) , lagian para ulama kalo berpendapat kalo benar dapat 2 kalo salah dapat 1 (ada ketentuan bagi orang yg boleh berpendapat). Perbedaan adalah RAHMAT tapi bagi kita malah LAKNAT , ada apa nih ? (Yahudi & Nasrani malah tepuk tangan)
    Yo, mari kita rapatkan barisan (sesama muslim adalah saudara) masih banyak rintangan yang lebih besar yg ingin memecah belah umat islam

    • fuad Says:

      setuju mas…. kalo ada yang berkeyakinan bayi baru lahir dikumandangkan adzan jadi dosa, ya jangan dilakukan. kalo berkeyakinan bayi baru lahir dikumandangkan adzan akan mendapatkan kebaikan dari Allah SWT, ya mari lakukan…. Semua datang dari Allah SWT. apalagi jika diniati untuk mengenalkan Allah SWT di jiwanya si dedek semenjak bayi niscaya akan mendatangkan rahmat dari Allah SWT. amin Allohumma amin….

  58. Trader Forex Indonesia Says:

    Terimakasih saya setuju. Itu sunnah boleh di lakukan malah tambah pahala juga bagi si Ayahnya pemberi adzan, bagi agama islam…

  59. hasbi Says:

    benar kata guru saya dulu,(guru fiqih),jangan bilang saya yg mengajari fiqih seperti ini,saya binggung kok guru saya ngomong seperti itu…ternyata makin bertambah2 ilmu saya makin mengerti..ternyata ilmu fiqih itu setiap paham ada.jadi mana menurut hati kita yg benar itu lah pilih jadi pedoman kita….pasti sll ada perbedaan dalam dunia ini…ibarat saya suka jengkol dan pete anda tidak…

  60. Jarwanto Nugroho Says:

    Setelah membaca uraian2 dr saudara2 seiman diatas: Saya lebih memilih membacakan Adzan pd waktu anak saya lahir cecar. Bangga terharu dan bergetar hati saya. Allohu Akbar. Tentunya apapun wujud syukur dan doa kita mengharap yg terbaik pada keturunan kita. Bgm caranya? Ad yg dengan cara lain sesuai sunah kasih tahu dong, titik temu dan titik tengahnya bgm. Allohu Akbar.

  61. kobenoz Says:

    Menurut saya yang jadi masalah bukan esensinya (mengadzani bayi), tapi riwayat haditsnya. Ketika ada seorang profesor menyatakan “1+1=2″, dan ada juga orang gila yang menyatakan “1+1=2″, itu tidak berarti statementnya salah, tapi periwayatnya dan kualitas periwayatnya yang dipertanyakan. Kebenaran akan tetap menjadi sebuah kebenaran darimanapun itu datangnya. Wallohu’alam bishshowab…

  62. orang miskin ilmu Says:

    astagfirulloh……….

    • Amrulloh Says:

      Astagfirulloohal ‘Azhiim alladzii laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul-Qoyyuumu wa Atuubu Ilaihi , ALLOOHUMMA SOLLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA’ALAA AALI SAYYIDINA MUHAMMAD

  63. outboundmalang Says:

    kunjungan sob . .
    bagi”motivasi ya sob :)
    “Apa pun yang Anda percaya, dengan keyakinan, akan menjadi kenyataan.Keyakinan Anda sangatlah menentukan kenyataan hidup Anda.
    Ditunggu kunjungan baliknya :)

  64. pengikut muhammad Says:

    saya khawatir ada tuhan/nabu baru namanya albani, karena para pengikutnya menganggap dialah satu-satunya kebenaran, ulama yang masyhur keihlasan dan kelimuannya sejak zaman dulu dianggap salah. bagi pengikut albani ulama bisa keliru, seharusnya mereka juga berpendapat bahwa albanipun bisa keliru. Takhrij hadis adalah juga merupakan ijtihad yang bisa benar bisa salah .kebenaran milik Allah semata

  65. habibuka Says:

    Islam itu mudah di pahami dan dimengerti coba antum artikan adzan itu?

    YANG PASTI BENAR DAN JELAS HANYA UNTUK PANGGILAN SHOLAT FARDHU DAN TIDAK ADA KERAGUANNYA..

    Kalau bayi lahir mending dingajiin aj.. surat al fatihah induk’a al qur’an dan surat pendek al ikhlas al falakh dan an naas dan doakan yang baik” dan salawat itu kalimat yang sangat baik untuk dilangit dan dibumi dan untuk jin dan manusia..

  66. Eko Andri Priyanto Says:

    hmmmm, bahas apa ni… albani pinter nya seberapa sih, hafal berapa hadits.,, sampai2 imam Nawawi disalahkan, Imam Syafii di salahkan,, yg jelas, yg tau bagaimana kehidupan Sayyidina Muhammad saw adalah para sahabat, dan yg tau amalan2 para sahabat adalah para para Tabi’ dan tabi’in.para imam mahzab yg merumuskan fiqih itu muridnya murid sahabat,,iamam Ahmad HAFAL 1 JUTA HADITS, tap di dalam kitab hadits beliau hanya tertulis sekitar 27.000 hadits, nah yg 900.000 sekian belum sempet di tulis oleh beliau.otomatis hafalan Hadits para Imam Mahzab itu jaaauuuuuh lebih banyak di bandingkan ulama wahabi yg sudah kurang adab mencela para Imam. jadi lebih selamet ngikut para imam mahzab daripada albani yang lahir jauh setelah imam mahzab, albani pun belajar dari perpustakaan,tak punya guru. menelaah dengan akal pikirannya sendiri, sekiranya hukumnya tidak cocok dengan keadaannya akhirnya yaa di slsempengkan/di akali supaya jadi cocok…yah,, ati2 aja lah.. albani albani..

  67. yazid Says:

    ketika petunjuk itu datang kepada kita, janganlah berbantah-bantahan, kalau memang diturut sanadnya, itu memang sulit. tapi berpikirlah kenapa Rosul itu adzan ketika husain lahir? ada pa di balik itu? pada kondisi yang bagaimana?.
    kalau memang semua mengaku benar, siapa yang salah?
    mengutarakan gagasan adalah baik. tetapi akan lebih baik lagi jika mengutarakan gagasan (pendapat) tidak fanatik terhadap gagasan orang lain.

  68. Keisya Says:

    Trader Forex Indonesia Says:
    24 Juli 2011 pada 1:04 pm
    Terimakasih saya setuju. Itu sunnah boleh di lakukan malah tambah pahala juga bagi si Ayahnya pemberi adzan, bagi agama islam…

    sunnah dan bid’ah itu berbeda mas. Adzan itu panggilan shalat, apakah bayi sudah ada kewajiban shalat?
    kita2 saja di indonesia yg masih melaksanakan tradisi nenek moyang. ingat, Bid’ah itu lebih disukai iblis dibandingkan maksiat biasa. karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat. naudzubillah.

  69. Hamba Allah yang serba salah Says:

    Hellow wahabi, Hehehe,,, Alqur’an terjemahan+hadist yang ditafsirkan sekarepe udele dwe dan disebarkan melalui, Radio, Tv, Brosur, dll, di cerna mentah-mentah, gak pake ilmu, hanya menerima apa yang mereka dengar dan lihat dengan dogma dan doktrin berdasar logika akal dan retorika hawa nafsu!!! katanya dah ngaji, coba ngaji itu apa?, oh ea! Bukankah kalian sendiri yang menuhankan ustad kalian tanpa sadar ,bukan orang NU!!! masa cium tangan sesama lelaki yang lebih tua untuk menghormati dibilang menuhankan/menabikan, giliran berpegang pada apa yang ustad mereka ucapkan, kok tidak dicap ngakuin ustad nabi, oh ada lagi wahabi lover yang ada di Indonesia atau sempalannya yang tak mau mengakui sebagai wahabi padahal pemahamannya wahabi, ngakunya pemurnian Islam apa pengotoran Islam dengan Bid’ah yang mereka gedar-gedorkan, padahal tak sadar mereka sendiri yang melakukannya, katanya kalian ngikut Alqur’an+As Sunah, masa 1 dari 72/73 golongan aja gak tau atau gak bisa bedain, repot dech! eh ciape deech…(lebay dikit lah)! Kalian merasa paling benar menafsirkan dengan mempelajari terjemahan Al qur’an+Hadist Indonesianya saja ea! padahal versi Arabnya jika ditafsirkan akan lebih berbeda maknanya, coba syarat menafsirkan Al qur’an sudah memadai belum? Kalau belum, ku ingetin ea, jangan membid’ahkan sesama Muslim dech, sama aja memvonis kesalahan tanpa Ilmu, eit!! yang terakhir, mengenai kitab kuning/gundulan itu, ada lho diantara kalian yang mencap jelek kitab itu dengan sedikit halus sih tapi nggores juga, kalian kalau tidak ada kitab kuning gak akan pernah tau tajwid+uraian terjemahan Alqur’an yang dibatasi sekarang, jadi jangan sok bilang berpegang Alqur’an+Sunah dech, padahal tau makna didalamnya dari orang yang sepaham dengan nafsu kalian, dasar sok suci, sok berhak, sok menetapkan, jika kalian tak mau ngikut sama NU yang berpegang pada Alqur’an, AsSunah, Ijma’ para Ulama dan Qiyas yang mungkin anda rasa berat, ya sudah!!! Jangan bid’ah2in, kafir2n, sesat2in warga NU

  70. idris Says:

    jadi bingung ni.
    bentar lgi istri ku lahir ntah mana yang benar.
    mendingan belajarlah kepada ulama2 yang benar2 tau akan adist n al-qur’an

  71. ari Says:

    KALO SEMUA NGAKU PINTER…… TP BANYAK YANG KEBLINGER YA JADINYA KAYA GINI…… ORANG PINTER ITU JUGA BIJAKSANA….. SEPENDAPAT ATAU TIDAK DNGAN PENDAPAT ORANG LAIN ORANG PINTER MENGGUNAKAN BAHASA YANG SOPAN DAN TIDAK SALING MENYAKITI DALAM NENYAMPAIKANNYA…….. MULONE AYO PODHO NGILO DEWE….DEWE…..

  72. Rdt Ulum R Says:

    kalo anak saya udah diazanin dua-duanya. soal salah ato benar silahkan nanti dia akhirat Al-Bani dan ulama Syafi’iyah yang berantem. ngapain kita yang pada kurang ilmu berantem. ga semua bisa jadi ulama.

  73. ismail Says:

    aslm,halo halo bandung,jangan ributttt donggg,,,tak kasih tau sodaraku,,kita bicara pake akal saja ato otak mengenai agama,, setujuuuuut,,ok gini caranya,,,klo jadi tentara ada hukumnya sediri,tidak boleh di langar,,semua org di dunia ini punya boss di tempat kerja,,dan ada undang udang nya harus di taati,,stuuuujuuuu,,,,dan setiap perusahaan beda uud nya,,stujuuuu,,sama juga muslim punya uud sediri dari quran dan hadis,,jadi klo org ngaku islam wajib pake uud islam,sama kayak tentara wajib pake uud tentara,klo tidk itu namanya org gila,di tembak matiiiii,,deeeeehhhh,,hiiiii, dan islam itu uud hukum nya yaa di quran dan hadis mau tidak mau harus terima klo tidak,,berarti enteeee, ,giillaaaaa,,dongggg. hiiiii,,,allah befirman,,hai org beriman jadilah org muslim yg kaffah,qs,bakaroh no,208,,bukan,,,kaffffffiiirrrrr,,hiiiii,,,ok gini aja kalian mau azan di bayi bagus boleh menurut yg setuju,,,tapi jangan di bilang wajib ato sunnah,,kamu pingin aja ngelakuin karna ini kan peningalang nenek moyang mu,muuuhhhhh,,kayak surat yasiin,dong,,,,,silah kan bole,,dan saya tdk pernah bilang akmu kafir,,,dapi allah yg bilang,ikutilah perintah alloh dan rasunya,,maka allah akan mengapuni dosamu,tapi klo kamu perpaling tdk mengikutinya maka allah tidk suka dengan org kafirr,,an nissa 13,,tapi ini kata allah big boss,,bukan kata org gila,,ok,,mari kita pake aka dan otak,jangan pake kegilaannnnn,,,

  74. ismail Says:

    qul Aatii ullohawarrasull faintawalaw fainnallahalayuhibbulkafirin,qs,32 ali imron,bukan surat nissa no13,sorry salah,,,

  75. artha nainggolan Says:

    Saya mualaf, saya sih belajar akidah dulu saja lah. Berat bahasannya. Semua merasa benar. Saya masih dilevel semua yang kita lakukan tergantung niatnya. Hiks hiks

  76. Elang Putih Says:

    kalaw kata mbah Gus-dur…. kayak gito kok repot…… pilih di adzanin & di iqomatin apa pilih di nyanyian lagu balon q ada lima. balon q ada lima ruparu parwarnanya… dsT… AYO.. PILIH MANA

  77. denie Says:

    cukuplah dengn laillahailallah di telinga kanan,dan muhammadar rosulullah di telinga kiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: